Cari Blog Ini

Kamis, 20 Februari 2014

khittah HMI etos perjuangan



5.  Etos Perjuangan
Perubahan tatanan masyarakat yang berdasarkan nilai-nilai Islam bukanlah suatu janji Allah SWT yang diberikan begitu saja kepada ummat manusia tanpa ada proses pembentukan46. Proses pembentukannyapun menuntut adanya keterlibatan manusia didalamnya. Tuntutan akan keterlibatan manusia dalam proses pembentukan masyarakat dikarenakan manusia diciptakan Allah SWT sebagai khalifah dimuka bumi, sehingga ia memiliki peran mengatur dan penentu bentuk tatanan masyarakat yang diridhoi oleh Allah SWT.
Manusia dalam menjalankan perannya sebagai khalifah tidak dengan berdiam diri dan melihat perubahan tatanan dan lingkungan masyarakatnya berjalan dengan sendirinya. Namun peran khalifah itu harus dijalankan manusia dengan berusaha dan berjuang sepenuhnya untuk pembentukan tatanan masyarakat yang diridhoi oleh Allah SWT dan tentunya tatanan itu berjalan dengan dasar nilai-nilai Islam yang berlaku didalamnya47.
Oleh sebab itu semangat untuk berjuang (etos perjuangan) menjadi penting untuk dimiliki oleh seorang insan yang diciptakan sebagai khalifah dimuka bumi. Etos perjuangan menjadi bekal dalam berusaha dan berjuang untuk perbaikan masyarakat di setiap waktu dan di setiap tempat. Manusia yang memiliki etos perjuangan yang cukup kuat akan selalu sadar untuk melihat realitas lingkungan sekitarnya dan melakukan perubahan serta perbaikan atas kondisi lingkungannya tersebut setiap saat. Melakukan perubahan dan perbaikan setiap saat tanpa henti seperti ini dikarenakan kondisi lingkungan masyarakat tidak pernah mencapai titik ideal yang diam dan statis.
Begitu juga dengan tatanan masyarakat yang diyakini didasarkan oleh nilai-nilai Islam tidak akan pernah mencapai titik kebenaran ideal sepanjang zaman. Oleh sebab itu Islam yang tidak mengenal konsep kemapanan, akibatnya memunculkan tanggung-jawab tiap muslim untuk terus berjuang menegakkan kebenaran tanpa ada kata henti dan titik akhir. Seorang muslim akan melakukan perjuangan sejak ia lahir sampai ia dikuburkan mulai dari lingkungan dirinya sampai pada masyarakat keseluruhan.
Etos perjuangan yang harus dimiliki tiap muslim merupakan cerminan gerak iman seorang muslim tersebut. Iman tidak hanya diukur atas berapa banyak shalat yang ia kerjakan, atau berapa banyak zakat yang ia keluarkan atau berapa lama puasa yang ia lakukan dan berapa banyak ibadah haji yang ia tunaikan Namun iman juga diukur dengan seberapa lama dan seberapa kuat manusia berjuang mewujudkan kebenaran dalam masyarakat demi kemaslahatan umat manusia. Keistiqomahan berjuang ini menjadi ukuran kemuliaan iman karena menunjukan tingkat keyakinan diri manusia atas kebenaran keilahian itu sendiri 48.
Pada intinya perjuangan dalam hidup seorang muslim merupakan suatu proses peningkatan kualitas akan iman yang membentuk jati diri muslim seutuhnya. Oleh sebab itu perjuangan pada seorang muslim harus merupakan sebuah pilihan sadar atas dasar keimanan, bukan sebuah tuntutan yang lahir dari luar dirinya. Dikatakan sebagai pilihan sadar jika ia telah memenuhi dua syarat yaitu “berkehendak dan terlibat”. Ini artinya seseorang tidak dapat mengaku berjuang atas dasar pilihan sadar dari dirinya sendiri jika dalam memulai perjuangannya dilakukan atas dasar perintah atau paksaan orang lain (bukan kehendak diri). Seseorang juga tidak dapat mengaku berjuang atas dasar pilihan sadar dari dirinya sendiri jika selama perjuangan tersebut berjalan ia tidak secara langsung terlibat dalam aktifitas perjuangan itu.
Selain kesadaran akan pilihan, seorang muslim dikatakan berjuang jika ia juga sadar akan resiko dan prestasi yang akan  ia peroleh. Sehingga tidak ada perjuangan yang berjalan secara buta tanpa melihat apa yang akan ditemui di medan juang 49. Dengan demikian seorang muslim yang berjuang tidak mengalami keterkejutan dan kegagapan yang muncul ditengah perjalanan perjuangannya. Seorang muslim harus melakukan taksiran-taksiran atas apa yang akan ia hadapi dalam rentang waktu perjuangannya. Ini akan menciptakan sikap diri yang tidak pernah terjerumus dalam kesedihan akan kegagalan dan tidak pernah terbuai dalam kegembiraan akan keberhasilan. Keterjebakan pada kesedihan pada saat gagal dan pada saat berhasil cuma akan membuat seseorang lupa diri 50. Lupa diri selalu membuat perjuangan berhenti pada satu titik kegagalan atau pada satu titik keberhasilan.
Sebagai suatu ukuran keimanan yang paling terpenting dalam etos perjuangan adalah bagaimana seorang muslim dapat mempertahankan imannya dengan tetap berjuang setiap saat (istiqomah). Keberhasilan suatu perjuangan bukanlah titik kemuliaan keimanan dari seorang muslim. Kegagalan juga bukan merupakan titik kehinaan dalam keimanan seorang muslim. Namun istiqomahlah yang menentukan apakah keimanan seorang muslim itu merupakan iman yang sebenar-benarnya atau iman yang sebatas pengakuan tanpa implementasi.
Oleh sebab itu perjuangan bagi seorang muslim yang diutamakan bukan bagaimana ia mencapai keberhasilan dan menghindari kegagalan, namun yang diutamakan adalah bagaimana ia dapat bertahan untuk terus berjuang 51. Keberhasilan dalam perjuangan hanya sebuah taksiran-taksiran perjuangan yang memperlihatkan bahwa sebuah perjuangan telah mencapai satu titik tertentu dan harus dilanjutkan pada titik berikutnya. Kegagalan dalam perjuangan merupakan peringatan atas kesalahan yang terjadi dalam perjuangan sehingga dituntut adanya perbaikan dimasa mendatang 52.
Kemuliaan perjuangan yang paling tinggi akan terbentuk pada tingkat perjuangan dalam bentuk “jihad”. Jihad secara etimologis berarti sungguh-sungguh. Pada jihad seorang muslim akan memakai seluruh potensi yang ia miliki secara fisik maupun secara non fisik untuk menjalankan perjuangannya 53. Jihad dalam konsepsi Islam merupakan sebuah titik kesempurnaan dan kemuliaan iman seorang muslim dalam kehidupannya54. Perjuangan jihad fi sabililah yang bertujuan akhir menegakkan cita-cita Islam ini dijalankan dengan  misi penyadaran dan petunjuk sebagaimana esensi ajaran Islam itu sendiri.
Al Qur’an tidak memberikan ekuivalensi jihad dengan qital atau perang. Perintah Jihad-pin hadir sebelum perintah perang (qital) turun Ini berarti. Namun Jihad lebih menggambarkan kewajiban individu dalam berjuang secara sungguh-sungguh di garis Islam pada titik kemuliaannya dimana dia harus mengorbankan segala sesuatu yang ia miliki termasuk jiwa, raga  dan lingkungannya. Keutuhan perjuangan itulah yang merupakan pesan yang disampaikan Alqur’an bagi umatnya55.
Keutuhan bentuk perjuangan tersebut dituntut untuk tetap dijaga dengan sikap diri yang bernama “ikhlas”. Ikhlas mencerminkan suatu bentuk hubungan antara makhluk dan khaliknya 56. Oleh sebab itu ikhlas tidak dicerminkan oleh ucapan atau janji seorang manusia kepada manusia lainnya melainkan dicerminkan dari konsistensi perjuangan dan pengorbanan yang ia lakukan. Konsistensi ini tidak tergantung pada imbalan yang ia terima dari sesama manusia. Bahkan berjihad dengan segala pengor-banannya lebih sering mendapat celaan oleh manusia lainnya daripada imbalan57. Maka dari itu ikhlas menjadi penyempurna atas perjuangan menegakkan kebenaran. Inilah kunci bagi pejuang yang tidak akan lupa diri ketika menerima satu tahap keberhasilan juga tidak akan tenggelam ketika mengalami kegagalan.
Orang yang berjihad kita kenal sebagai mujahid. Tiap muslim dapat menjadi mujahid. Proses menjadi mujahid akan membuat seorang muslim tahu apa arti sebuah kehidupan secara utuh dan tahu bagaimana ia harus hidup dalam kehidupan tersebut 58. Ini merupakan titik kemulian seorang manusia yang tidak akan pernah terseret oleh arus zaman namun selalu membentuk dan melakukan perubahan zaman 59 . Ada beberapa ciri khas yang dimiliki oleh seorang mujahid yaitu: saja’ah (berani), totalitas, adil, jujur, amanah, sabar, tawadhu (rendah hati), pema’af dan istiqomah.
Berdasarkan konsep yang diuraikan diatas, jihad mestinya meliputi pemahaman situasi internal dan eksternal, sehingga langkah dan kebijakan yang diambil tidak sekedar didasarkan pada peluang yang muncul dan menunggu kematangan situasi, melainkan lebih merupakan upaya progresif untuk menciptakan peluang dan situasi yang dapat menjadi instrumen konstruktif bagi perjuangan Islam 60.
6.  Hari Kemudian
Al Qur’an memperingatkan dan memerintahkan manusia untuk berfikir terlebih dahulu sebelum bertindak agar tidak menyesal dikemudian hari.61 Ditekankannya pula manusia dengan berbagai peringatan dan ancaman, serta pada saat yang bersamaan digembirakannya dengan janji-janji imbalan. Hari berbangkit dan pembalasan, surga dan neraka, diungkapkan dengan cukup gamblang kepada manusia agar mereka mengerti, bahwa apa saja yang mereka lakukan harus dipertanggungjawabkan dihadapan Allah. Namun semua janji itu bukan untuk menjadikan manusia takut atas ancaman juga tidak membuat manusia berharap imbalan di hari kemudian, namun agar sadar atas pilihannya yang memiliki akibat di hari kemudian.
Hari kemudian atau akherat akan menjadi masa pengadilan bagi umat manusia. Semua yang dilakukan manusia semasa kehidupannya dimuka bumi akan dihisab. Hasil hisab inilah yang kemudian menjadi bahan penilaian atas apa yang akan ia dapatkan dalam masa akherat kelak. Artinya amal manusia di dunia inilah yang akan menentukan apa yang akan terjadi pada dirinya di akherat kelak. Tak satupun perbuatan yang lepas dari perhitungannya. 62 Tak satu perhitunganpun yang tak mendapat balasannya. Masa pengadilan ini menjadi masa yang tak bisa dihindari oleh satu umat manusiapun. Kekuasaan Allah SWT akan menunjukan bahwa keadilan yang berjalan adalah keadilan yang tidak dapat dihindari oleh manusia, bahkan hasilnya tak bisa dikompromikan seperti keadilan yang ada di dunia ini.
Kehidupan akherat yang merupakan kehidupan “pasca sejarah” kemanusiaan juga menjadi logis dan amat adil, mengingat keadilan tidak selalu terwujud dalam setiap saat bagi seseorang atau suatu masyarakat di dunia. Pada kenyataannya bahkan amat banyak orang yang didzalimi di muka bumi ini. Mereka yang berbuat dzalimpun tidak selalu sempat mendapat ganjaran yang setimpal. 63 Bahkan banyak orang yang berbuat kebathilan justru beroleh “ketenaran” dalam sejarah dunia.
Islam sangat menekankan umatnya yakin akan keberadaan akherat, karena dengan keyakinan ini umatnya tetap berjalan dalam kehidupan yang berorientasi tujuan pada akherat. Al Qur’an juga berulang kali menyatakan bahwa kehidupan yang sesungguhnya adalah di akherat. Kehidupan manusia di dunia, diibaratkan permainan,64 atau sementara,65 serta jauh lebih rendah tingkatannya.66 Akan tetapi kehidupan dunia itu harus dilalui manusia lengkap dengan cobaan dan ujian yang menjadi penentu kehidupan di akherat. Segala sesuatu yang diperbuat ada imbalannya di akherat, sehingga manusia tidak boleh berputus asa ketika menjalani beratnya kehidupan didunia. Berputus asa adalah sikap ingkar atas ketetapan Allah akan akherat dan janji Allah yang tidak membenani makhluknya melebihi kemampuannya.
Konsekuensinya kehidupan di dunia bukanlah sesuatu yang harus ditinggalkan. Manusia harus berusaha mendapatkan apa yang harus ia dapatkan, bahkan Allah memperkenankan manusia untuk beroleh kebahagiaan darinya.67  Kebahagiaan itu sudah barang tentu menurut tolak ukur ajaran Islam, bukan menurut materialisme atau faham-faham yang lain. Betapapun, nabi Muhammad SAW mencontohkan beberapa hal yang secara manusiawi dapat dianggap sebagai kesenangan, seperti halnya kecintaan kepada keluarga. 
Kenyataan tersebut menjadi penting karena Islam memang tidak mengajarkan faham yang menuntut agar kehidupan manusia selalu menderita di dunia untuk mencapai kebahagiaan di akherat. Islam mengajarkan keharmonisan yang dinamis, dengan kehidupan akherat tetap sebagai tujuan akhirnya. Ada kalanya orang-orang beriman menikmati keamanan dan kesentosaan, namun tidak jarang harus menahan pahit getir perjuangan melawan kedzaliman yang suatu saat lebih dominan di masyarakat. Manusia berhak memperoleh keberhasilan atas perjuanganya namun ia tak bisa terhindar dari kegagalan.
Pada kerangka ini, manusia harus selalu siap berkorban, dengan harta dan bahkan juga dengan nyawa sendiri. Manusia tidak perlu khawatir atas kuantitas dan kualitas pengorbanan yang ia keluarkan di dunia fana ini. Hal ini dikarenakan pengorbanan yang dilakukan manusia di dunia ini masih tetap teramat kecil bila dibandingkan dengan rahmat dijanjikan oleh Allah SWT di akherat nanti. Manusia juga harus tetap tabah dan sabar dalam menjalani hari-hari  perjuangannnya di dunia fana ini karena waktu dalam akherat adalah kekal yang membuat masa hidup yang kita jalani dengan ketabahan dan kesabaran adalah masa yang sangat singkat dalam ukurannya.
Akherat akan dimulai dengan munculnya hari akhir di dunia ini. Hari akhir merupakan akhir semua kehidupan yang telah lama berjalan di muka bumi ini.68 Hari akhir ini juga menjadi akhir diterimanya taubat manusia, sama halnya seperti sebuah momen yang menjadi batas hidup dan mati bagi seorang insan. Hari akhir yang kita kenal dengan hari kiamat menjadi sebuah penutup bagi kehidupan. Tak ada kehidupan yang berjalan tak ada lagi amal baik atau amal buruk yang dicatat oleh malaikat.
Semua orang akan bertanya ”Apa yang terjadi?”. Manusia bingung dan panik, berlari ketimur ke barat, ke utara ke selatan mencari tempat perlindungan. Namun tak satu tempatpun yang luput dari kejadian hari akhir. Manusia kemudian tersadar bahwa ini adalah akhir kehidupan. Manusia kemudian tersadar akan kebenaran janji-janji Allah SWT, walaupun selama ini manusia mengingkarinya. Manusia kemudian menangis dalam penyesalan atas pengingkarannya.69
Adanya hari kiamat beserta rincian kejadiannya dapat menjadi referensi dasar manusia dalam membangun orientasi hidupnya.70 Al Qur’an telah menyebutkan tentang keragaman orientasi hidup ini dengan penggambaran akan sifat-sifat manusia, serta penyebutan masing-masing dengan istilah-istilah tertentu, baik untuk yang tergolong yang beriman maupun yang ingkar. Setiap orientasi akan mempunyai konsekuensi yang setimpal. Seringkali diungkapkan bahwa ada yang beruntung dan ada yang celaka. Dan pada banyak kesempatan, selalu dinyatakan bahwa manusia diberi kebebasan untuk memilih orientasi hidupnya, karena memang tidak ada pemaksaan dalam Islam.
Di hari Kemudian manusia akan bangkit menanti masa hisab yang diberlakukan atas dirinya.71 Tak ada perbedaan antara satu manusiapun dengan manusia yang lain pada masa ini. Tak ada kemuliaan yang melebihi kemuliaan manusia lain. Namun mereka semua berdiri dengan wajah amalnya semasa hidupnya. Manusia akan sangat terlihat berbeda satu dengan yang lainnya akibat perbedaan kualitas amal yang telah ia jalankan semasa hidupnya. Inilah titik dimana manusia hadir dihari yang dijanjikan Allah, yaitu hari perhitungan
Secara imajinatif, berita kedatangan hari pembalasan mengingatkan kita tentang adanya penyelesaian secara tuntas atas konflik diantara manusia.72 Konflik seperti ini biasanya yang berawal dari perbedaan pendapat. Walaupun perbedaan pendapat diperkenankan dalam Islam ketika masih dalam kerangka orientasi hidup yang sama, namun sering hal ini “dimanipulasi” oleh manusia dengan menyembunyikan sesuatu benar dan menunjukan sesuatu yang salah. Di akherat, tak ada lagi yang dapat disembunyikan.
Kenyataan ini akan membuat sebagian manusia berkata: ”Ya Allah berikanlah diriku kesempatan sekali lagi untuk memperbaiki amalku, hamba tidak tahan atas pembalasan yang menimpa hamba ini”.73 Mereka terus memohon dan menangis dengan penuh kenistaan. Mereka sangat-sangat menyesal karena tidak pernah menggunakan lidahnya untuk menyeru kebaikan. Kedua tangan dan kakinyapun menggigil karena selama ini digunakan untuk menindas orang lain. 
Namun sebagian manusia merasa bersuka cita. Bersuka cita karena hari-hari yang ditunggu telah datang.74 Hari hari dimana mereka akan bertemu secara langsung dengan sang Khalik, Allah SWT. 75 Bagi sekelompok manusia ini pertemuan tersebut merupakan pertemuan yang paling berharga dari keberadaan seoarang diri manusia. Tak ada kenimatan dunia dan akhirat yang dapat melampaui pertemuan ini. Pertemuan ini tak akan bisa tergantikan oleh apapun jua yang ada. Mereka inilah orang-orang yang ikhlas, orang-orang yang tak mengharapkan janji-janji hari akhir kecuali pertemuan dengan Allah SWT.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar