5.
Etos Perjuangan
Perubahan tatanan masyarakat
yang berdasarkan nilai-nilai Islam bukanlah suatu janji Allah SWT yang
diberikan begitu saja kepada ummat manusia tanpa ada proses pembentukan46.
Proses pembentukannyapun menuntut adanya keterlibatan manusia didalamnya.
Tuntutan akan keterlibatan manusia dalam proses pembentukan masyarakat
dikarenakan manusia diciptakan Allah SWT sebagai khalifah dimuka bumi, sehingga
ia memiliki peran mengatur dan penentu bentuk tatanan masyarakat yang diridhoi
oleh Allah SWT.
Manusia dalam menjalankan
perannya sebagai khalifah tidak dengan berdiam diri dan melihat perubahan
tatanan dan lingkungan masyarakatnya berjalan dengan sendirinya. Namun peran
khalifah itu harus dijalankan manusia dengan berusaha dan berjuang sepenuhnya
untuk pembentukan tatanan masyarakat yang diridhoi oleh Allah SWT dan tentunya
tatanan itu berjalan dengan dasar nilai-nilai Islam yang berlaku didalamnya47.
Oleh sebab itu semangat
untuk berjuang (etos perjuangan) menjadi penting untuk dimiliki oleh seorang
insan yang diciptakan sebagai khalifah dimuka bumi. Etos perjuangan menjadi
bekal dalam berusaha dan berjuang untuk perbaikan masyarakat di setiap waktu
dan di setiap tempat. Manusia yang memiliki etos perjuangan yang cukup kuat
akan selalu sadar untuk melihat realitas lingkungan sekitarnya dan melakukan
perubahan serta perbaikan atas kondisi lingkungannya tersebut setiap saat.
Melakukan perubahan dan perbaikan setiap saat tanpa henti seperti ini
dikarenakan kondisi lingkungan masyarakat tidak pernah mencapai titik ideal
yang diam dan statis.
Begitu juga dengan
tatanan masyarakat yang diyakini didasarkan oleh nilai-nilai Islam tidak akan
pernah mencapai titik kebenaran ideal sepanjang zaman. Oleh sebab itu Islam
yang tidak mengenal konsep kemapanan, akibatnya memunculkan tanggung-jawab tiap
muslim untuk terus berjuang menegakkan kebenaran tanpa ada kata henti dan titik
akhir. Seorang muslim akan melakukan perjuangan sejak ia lahir sampai ia
dikuburkan mulai dari lingkungan dirinya sampai pada masyarakat keseluruhan.
Etos perjuangan yang harus
dimiliki tiap muslim merupakan cerminan gerak iman seorang muslim tersebut.
Iman tidak hanya diukur atas berapa banyak shalat yang ia kerjakan, atau berapa
banyak zakat yang ia keluarkan atau berapa lama puasa yang ia lakukan dan
berapa banyak ibadah haji yang ia tunaikan Namun iman juga diukur dengan
seberapa lama dan seberapa kuat manusia berjuang mewujudkan kebenaran dalam
masyarakat demi kemaslahatan umat manusia. Keistiqomahan berjuang ini menjadi
ukuran kemuliaan iman karena menunjukan tingkat keyakinan diri manusia atas
kebenaran keilahian itu sendiri 48.
Pada intinya perjuangan
dalam hidup seorang muslim merupakan suatu proses peningkatan kualitas akan
iman yang membentuk jati diri muslim seutuhnya. Oleh sebab itu perjuangan pada
seorang muslim harus merupakan sebuah pilihan sadar atas dasar keimanan, bukan
sebuah tuntutan yang lahir dari luar dirinya. Dikatakan sebagai pilihan sadar
jika ia telah memenuhi dua syarat yaitu “berkehendak dan terlibat”. Ini artinya
seseorang tidak dapat mengaku berjuang atas dasar pilihan sadar dari dirinya
sendiri jika dalam memulai perjuangannya dilakukan atas dasar perintah atau
paksaan orang lain (bukan kehendak diri). Seseorang juga tidak dapat mengaku
berjuang atas dasar pilihan sadar dari dirinya sendiri jika selama perjuangan
tersebut berjalan ia tidak secara langsung terlibat dalam aktifitas perjuangan
itu.
Selain kesadaran akan
pilihan, seorang muslim dikatakan berjuang jika ia juga sadar akan resiko dan
prestasi yang akan ia peroleh. Sehingga tidak ada perjuangan yang
berjalan secara buta tanpa melihat apa yang akan ditemui di medan juang 49.
Dengan demikian seorang muslim yang berjuang tidak mengalami keterkejutan dan
kegagapan yang muncul ditengah perjalanan perjuangannya. Seorang muslim harus
melakukan taksiran-taksiran atas apa yang akan ia hadapi dalam rentang waktu
perjuangannya. Ini akan menciptakan sikap diri yang tidak pernah terjerumus
dalam kesedihan akan kegagalan dan tidak pernah terbuai dalam kegembiraan akan
keberhasilan. Keterjebakan pada kesedihan pada saat gagal dan pada saat
berhasil cuma akan membuat seseorang lupa diri 50. Lupa diri selalu
membuat perjuangan berhenti pada satu titik kegagalan atau pada satu titik
keberhasilan.
Sebagai suatu ukuran
keimanan yang paling terpenting dalam etos perjuangan adalah bagaimana seorang
muslim dapat mempertahankan imannya dengan tetap berjuang setiap saat
(istiqomah). Keberhasilan suatu perjuangan bukanlah titik kemuliaan keimanan
dari seorang muslim. Kegagalan juga bukan merupakan titik kehinaan dalam
keimanan seorang muslim. Namun istiqomahlah yang menentukan apakah keimanan
seorang muslim itu merupakan iman yang sebenar-benarnya atau iman yang sebatas
pengakuan tanpa implementasi.
Oleh sebab itu perjuangan
bagi seorang muslim yang diutamakan bukan bagaimana ia mencapai keberhasilan
dan menghindari kegagalan, namun yang diutamakan adalah bagaimana ia dapat
bertahan untuk terus berjuang 51. Keberhasilan dalam perjuangan
hanya sebuah taksiran-taksiran perjuangan yang memperlihatkan bahwa sebuah
perjuangan telah mencapai satu titik tertentu dan harus dilanjutkan pada titik
berikutnya. Kegagalan dalam perjuangan merupakan peringatan atas kesalahan yang
terjadi dalam perjuangan sehingga dituntut adanya perbaikan dimasa mendatang 52.
Kemuliaan perjuangan yang
paling tinggi akan terbentuk pada tingkat perjuangan dalam bentuk “jihad”.
Jihad secara etimologis berarti sungguh-sungguh. Pada jihad seorang muslim akan
memakai seluruh potensi yang ia miliki secara fisik maupun secara non fisik
untuk menjalankan perjuangannya 53. Jihad dalam konsepsi Islam
merupakan sebuah titik kesempurnaan dan kemuliaan iman seorang muslim dalam
kehidupannya54. Perjuangan jihad fi sabililah yang bertujuan
akhir menegakkan cita-cita Islam ini dijalankan dengan misi penyadaran
dan petunjuk sebagaimana esensi ajaran Islam itu sendiri.
Al
Qur’an tidak memberikan ekuivalensi jihad dengan qital atau perang.
Perintah Jihad-pin hadir sebelum perintah perang (qital) turun Ini berarti.
Namun Jihad lebih menggambarkan kewajiban individu dalam berjuang secara
sungguh-sungguh di garis Islam pada titik kemuliaannya dimana dia harus
mengorbankan segala sesuatu yang ia miliki termasuk jiwa, raga dan
lingkungannya. Keutuhan perjuangan itulah yang merupakan pesan yang disampaikan
Alqur’an bagi umatnya55.
Keutuhan bentuk
perjuangan tersebut dituntut untuk tetap dijaga dengan sikap diri yang bernama
“ikhlas”. Ikhlas mencerminkan suatu bentuk hubungan antara makhluk dan
khaliknya 56. Oleh sebab itu ikhlas tidak dicerminkan oleh ucapan
atau janji seorang manusia kepada manusia lainnya melainkan dicerminkan dari
konsistensi perjuangan dan pengorbanan yang ia lakukan. Konsistensi ini tidak
tergantung pada imbalan yang ia terima dari sesama manusia. Bahkan berjihad
dengan segala pengor-banannya lebih sering mendapat celaan oleh manusia lainnya
daripada imbalan57. Maka dari itu ikhlas menjadi penyempurna atas
perjuangan menegakkan kebenaran. Inilah kunci bagi pejuang yang tidak akan lupa
diri ketika menerima satu tahap keberhasilan juga tidak akan tenggelam ketika
mengalami kegagalan.
Orang yang berjihad kita
kenal sebagai mujahid. Tiap muslim dapat menjadi mujahid. Proses menjadi
mujahid akan membuat seorang muslim tahu apa arti sebuah kehidupan secara utuh
dan tahu bagaimana ia harus hidup dalam kehidupan tersebut 58. Ini
merupakan titik kemulian seorang manusia yang tidak akan pernah terseret oleh
arus zaman namun selalu membentuk dan melakukan perubahan zaman 59 .
Ada beberapa ciri khas yang dimiliki oleh seorang mujahid yaitu: saja’ah
(berani), totalitas, adil, jujur, amanah, sabar, tawadhu (rendah
hati), pema’af dan istiqomah.
Berdasarkan
konsep yang diuraikan diatas, jihad mestinya meliputi pemahaman situasi
internal dan eksternal, sehingga langkah dan kebijakan yang diambil tidak sekedar
didasarkan pada peluang yang muncul dan menunggu kematangan situasi, melainkan
lebih merupakan upaya progresif untuk menciptakan peluang dan situasi yang
dapat menjadi instrumen konstruktif bagi perjuangan Islam 60.
6.
Hari Kemudian
Al
Qur’an memperingatkan dan memerintahkan manusia untuk berfikir terlebih dahulu
sebelum bertindak agar tidak menyesal dikemudian hari.61
Ditekankannya pula manusia dengan berbagai peringatan dan ancaman, serta pada
saat yang bersamaan digembirakannya dengan janji-janji imbalan. Hari berbangkit
dan pembalasan, surga dan neraka, diungkapkan dengan cukup gamblang kepada
manusia agar mereka mengerti, bahwa apa saja yang mereka lakukan harus
dipertanggungjawabkan dihadapan Allah. Namun semua janji itu bukan untuk
menjadikan manusia takut atas ancaman juga tidak membuat manusia berharap
imbalan di hari kemudian, namun agar sadar atas pilihannya yang memiliki akibat
di hari kemudian.
Hari
kemudian atau akherat akan menjadi masa pengadilan bagi umat manusia. Semua
yang dilakukan manusia semasa kehidupannya dimuka bumi akan dihisab. Hasil
hisab inilah yang kemudian menjadi bahan penilaian atas apa yang akan ia
dapatkan dalam masa akherat kelak. Artinya amal manusia di dunia inilah yang
akan menentukan apa yang akan terjadi pada dirinya di akherat kelak. Tak
satupun perbuatan yang lepas dari perhitungannya. 62 Tak satu
perhitunganpun yang tak mendapat balasannya. Masa pengadilan ini menjadi masa
yang tak bisa dihindari oleh satu umat manusiapun. Kekuasaan Allah SWT akan
menunjukan bahwa keadilan yang berjalan adalah keadilan yang tidak dapat
dihindari oleh manusia, bahkan hasilnya tak bisa dikompromikan seperti keadilan
yang ada di dunia ini.
Kehidupan
akherat yang merupakan kehidupan “pasca sejarah” kemanusiaan juga menjadi logis
dan amat adil, mengingat keadilan tidak selalu terwujud dalam setiap saat bagi
seseorang atau suatu masyarakat di dunia. Pada kenyataannya bahkan amat banyak
orang yang didzalimi di muka bumi ini. Mereka yang berbuat dzalimpun tidak
selalu sempat mendapat ganjaran yang setimpal. 63 Bahkan banyak
orang yang berbuat kebathilan justru beroleh “ketenaran” dalam sejarah dunia.
Islam
sangat menekankan umatnya yakin akan keberadaan akherat, karena dengan
keyakinan ini umatnya tetap berjalan dalam kehidupan yang berorientasi tujuan
pada akherat. Al Qur’an juga berulang kali menyatakan bahwa kehidupan yang
sesungguhnya adalah di akherat. Kehidupan manusia di dunia, diibaratkan
permainan,64 atau sementara,65 serta jauh lebih rendah
tingkatannya.66 Akan tetapi kehidupan dunia itu harus dilalui
manusia lengkap dengan cobaan dan ujian yang menjadi penentu kehidupan di
akherat. Segala sesuatu yang diperbuat ada imbalannya di akherat, sehingga
manusia tidak boleh berputus asa ketika menjalani beratnya kehidupan didunia.
Berputus asa adalah sikap ingkar atas ketetapan Allah akan akherat dan janji
Allah yang tidak membenani makhluknya melebihi kemampuannya.
Konsekuensinya
kehidupan di dunia bukanlah sesuatu yang harus ditinggalkan. Manusia harus
berusaha mendapatkan apa yang harus ia dapatkan, bahkan Allah memperkenankan
manusia untuk beroleh kebahagiaan darinya.67 Kebahagiaan itu
sudah barang tentu menurut tolak ukur ajaran Islam, bukan menurut materialisme
atau faham-faham yang lain. Betapapun, nabi Muhammad SAW mencontohkan beberapa
hal yang secara manusiawi dapat dianggap sebagai kesenangan, seperti halnya
kecintaan kepada keluarga.
Kenyataan
tersebut menjadi penting karena Islam memang tidak mengajarkan faham yang
menuntut agar kehidupan manusia selalu menderita di dunia untuk mencapai
kebahagiaan di akherat. Islam mengajarkan keharmonisan yang dinamis, dengan
kehidupan akherat tetap sebagai tujuan akhirnya. Ada kalanya orang-orang
beriman menikmati keamanan dan kesentosaan, namun tidak jarang harus menahan
pahit getir perjuangan melawan kedzaliman yang suatu saat lebih dominan di
masyarakat. Manusia berhak memperoleh keberhasilan atas perjuanganya namun ia
tak bisa terhindar dari kegagalan.
Pada kerangka ini,
manusia harus selalu siap berkorban, dengan harta dan bahkan juga dengan nyawa
sendiri. Manusia tidak perlu khawatir atas kuantitas dan kualitas pengorbanan
yang ia keluarkan di dunia fana ini. Hal ini dikarenakan pengorbanan yang
dilakukan manusia di dunia ini masih tetap teramat kecil bila dibandingkan
dengan rahmat dijanjikan oleh Allah SWT di akherat nanti. Manusia juga harus
tetap tabah dan sabar dalam menjalani hari-hari perjuangannnya di dunia
fana ini karena waktu dalam akherat adalah kekal yang membuat masa hidup yang
kita jalani dengan ketabahan dan kesabaran adalah masa yang sangat singkat
dalam ukurannya.
Akherat
akan dimulai dengan munculnya hari akhir di dunia ini. Hari akhir merupakan
akhir semua kehidupan yang telah lama berjalan di muka bumi ini.68
Hari akhir ini juga menjadi akhir diterimanya taubat manusia, sama halnya
seperti sebuah momen yang menjadi batas hidup dan mati bagi seorang insan. Hari
akhir yang kita kenal dengan hari kiamat menjadi sebuah penutup bagi kehidupan.
Tak ada kehidupan yang berjalan tak ada lagi amal baik atau amal buruk yang dicatat
oleh malaikat.
Semua
orang akan bertanya ”Apa yang terjadi?”. Manusia bingung dan panik,
berlari ketimur ke barat, ke utara ke selatan mencari tempat perlindungan.
Namun tak satu tempatpun yang luput dari kejadian hari akhir. Manusia kemudian tersadar
bahwa ini adalah akhir kehidupan. Manusia kemudian tersadar akan kebenaran
janji-janji Allah SWT, walaupun selama ini manusia mengingkarinya. Manusia
kemudian menangis dalam penyesalan atas pengingkarannya.69
Adanya
hari kiamat beserta rincian kejadiannya dapat menjadi referensi dasar manusia
dalam membangun orientasi hidupnya.70 Al Qur’an telah menyebutkan
tentang keragaman orientasi hidup ini dengan penggambaran akan sifat-sifat
manusia, serta penyebutan masing-masing dengan istilah-istilah tertentu, baik
untuk yang tergolong yang beriman maupun yang ingkar. Setiap orientasi akan
mempunyai konsekuensi yang setimpal. Seringkali diungkapkan bahwa ada yang
beruntung dan ada yang celaka. Dan pada banyak kesempatan, selalu dinyatakan
bahwa manusia diberi kebebasan untuk memilih orientasi hidupnya, karena memang
tidak ada pemaksaan dalam Islam.
Di
hari Kemudian manusia akan bangkit menanti masa hisab yang diberlakukan atas
dirinya.71 Tak ada perbedaan antara satu manusiapun dengan manusia
yang lain pada masa ini. Tak ada kemuliaan yang melebihi kemuliaan manusia
lain. Namun mereka semua berdiri dengan wajah amalnya semasa hidupnya. Manusia
akan sangat terlihat berbeda satu dengan yang lainnya akibat perbedaan kualitas
amal yang telah ia jalankan semasa hidupnya. Inilah titik dimana manusia hadir
dihari yang dijanjikan Allah, yaitu hari perhitungan
Secara
imajinatif, berita kedatangan hari pembalasan mengingatkan kita tentang adanya
penyelesaian secara tuntas atas konflik diantara manusia.72 Konflik
seperti ini biasanya yang berawal dari perbedaan pendapat. Walaupun perbedaan
pendapat diperkenankan dalam Islam ketika masih dalam kerangka orientasi hidup
yang sama, namun sering hal ini “dimanipulasi” oleh manusia dengan
menyembunyikan sesuatu benar dan menunjukan sesuatu yang salah. Di akherat, tak
ada lagi yang dapat disembunyikan.
Kenyataan
ini akan membuat sebagian manusia berkata: ”Ya Allah berikanlah diriku
kesempatan sekali lagi untuk memperbaiki amalku, hamba tidak tahan atas
pembalasan yang menimpa hamba ini”.73 Mereka terus memohon dan
menangis dengan penuh kenistaan. Mereka sangat-sangat menyesal karena tidak
pernah menggunakan lidahnya untuk menyeru kebaikan. Kedua tangan dan kakinyapun
menggigil karena selama ini digunakan untuk menindas orang lain.
Namun
sebagian manusia merasa bersuka cita. Bersuka cita karena hari-hari yang
ditunggu telah datang.74 Hari hari dimana mereka akan bertemu secara
langsung dengan sang Khalik, Allah SWT. 75 Bagi sekelompok manusia
ini pertemuan tersebut merupakan pertemuan yang paling berharga dari keberadaan
seoarang diri manusia. Tak ada kenimatan dunia dan akhirat yang dapat melampaui
pertemuan ini. Pertemuan ini tak akan bisa tergantikan oleh apapun jua yang
ada. Mereka inilah orang-orang yang ikhlas, orang-orang yang tak mengharapkan
janji-janji hari akhir kecuali pertemuan dengan Allah SWT.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar