BAB
I
ASAS
Keyakinan Muslim
Keyakinan merupakan dasar
dari setiap gerak dan aktivitas hidup manusia. Karena itu manusia secara
fitri membutuhkan keyakinan hidup yang dapat menjadi pegangan dan sandaran bagi
dirinya. Ini berarti manusia menyadari, bahwa dirinya adalah makhluk lemah yang
membutuhkan pertolongan, bimbingan dan perlindungan dari sesuatu yang diyakini
sebagai yang Maha. Perkara keyakinan tertuang dalam suatu sistem keyakinan atau
ideologi. Tiap-tiap sistem keyakinan memiliki konsepsi tersendiri dalam
mengantarkan pengikutnya pada pemahaman dan kepercayaan terhadap tuhan. Pertama,
sistem keyakinan yang obyeknya didasarkan pada sesuatu yang nyata.
Kebenaran diukur melalui indera dan pengalaman. Sistem ini disebut kebenaran
ilmiah. Secara filosofis kebenaran ilmiah memiliki kelemahan karena tidak dapat
menjelaskan sisi kehidupan yang berada di luar pengalaman inderawinya.
Salah
satu di antaranya adalah mengenai Tuhan. Tuhan tak dapat diyakini keberadaannya
lewat bantuan sistem keyakinan ilmiah. Selain obyeknya, metodenya juga rapuh
karena setiap teori yang diklaim sebagai kebenaran baru sekaligus mengandung
keraguan. Manusia tak dapat berpegang teguh pada prinsip yang di dalamnya
mengandung kebenaran dan keraguan sekaligus, karena hal itu bukan keyakinan,
melainkan persangkaan saja. Al-Qur’an menegaskan bahwa persangkaan tak dapat
mengantarkan manusia pada kebenaran. 1
Kedua, sistem keyakinan yang
didasarkan pada doktrin literal. Sistem ini dapat ditemukan dalam semua agama.
Pada dasarnya, sistem keyakinan literal mengingkari arti pentingnya akal
sebagai sarana verifikasi kebenaran. Baginya, kebenaran adalah sesuatu yang
sudah jadi secara sempurna dan harus diterima tanpa perlu menyadarinya terlebih
dahulu. Akibat sistem keyakinan literal, manusia potensial melarikan diri dari
kenyataan dan tantangan zaman setelah telanjur mendikotomi antara doktrin
ketundukan pada ayat suci dengan peran-peran peradaban manusia. Termasuk dalam
kategori ini adalah keyakinan yang didasarkan pada kebiasaan budaya yang
diwarisi dari nenek moyang yang tidak sesuai dengan petunjuk Tuhan. 2
Islam
mengajarkan sistem keyakinan yang disebut Tauhid. Tauhid berbeda dengan
dua sistem keyakinan di atas karena cara pandangnya terhadap eksistensi
(wujud). Tauhid merupakan konsepsi sistem keyakinan yang mengajarkan bahwa
Allah SWT adalah zat Yang Maha Esa, sebab dari segala sebab dalam rantai
kausalitas. Ajaran Tauhid membenarkan bahwa manusia dibekali fitrah
yaitu suatu potensi alamiah berupa akal sebagai bekal untuk memilih sikap yang
paling tepat serta untuk mengenali dan memverifikasi kebenaran dan kesalahan (haq
dan bathil) secara sadar. Manusia meyakini Tuhan dengan metode yang
berbeda-beda.
Pada
sistem keyakinan lainnya, “Yang Maha” atau yang dirumuskan sebagai Tuhan,
hanya dijelaskan berdasarkan persepsi dan alam pikir manusia sendiri.
Sedangkan dalam konsepsi Tauhid, selain pencarian akal manusia sendiri
sebagai alat mendekati kebenaran mutlak, juga melalui wahyu di mana Tuhan
menyatakan dan menjelaskan diri-Nya kepada manusia.1 Jadi, Tauhid
memberi tuntunan berupa wahyu Allah melalui para nabi. Tauhid merupakan inti
ajaran yang disampaikan pada seluruh manusia di setiap zaman. Ini berarti bahwa
ajaran Tauhid adalah ajaran universal.
Tauhid
merupakan misi utama seluruh nabi dan rasul yang diutus Allah SWT. Mereka
menyampaikan risalah tauhid sesuai dengan tingkat peradaban masyarakatnya.
Syari’at Tuhan silih berganti disempurnakan setiap kali nabi dan rasul diutus
untuk mempersiapkan datangnya nabi dan rasul penutup. Tauhid yang disampaikan
oleh Nabi Muhammad SAW sebagai nabi terakhir yang dijanjikan Allah, dinyatakan
dalam dua kalimat syahadat, yaitu; Asyhadu an lâ ilâha illallâh, Wa
asyhadu anna Muhammadan Rasûlullâh. Artinya, aku bersaksi bahwasanya
tiada ilah selain Allah dan aku bersaksi bahwasanya Muhammad adalah rasul
Allah. Setiap manusia telah menyatakan syahadat ini sebelum ia dilahirkan.
Persaksian syahadat itu mengakibatkan manusia harus meniadakan sesembahan,
tempat bergantung dari segala sesuatu yang dipertu-hankan. Ini juga berarti
bahwa dimensi syahadat adalah pengakuan dan ketundukan.
Pengakuan
bahwa Allah adalah Tuhan pencipta langit dan bumi serta makhluk-makhluk yang
ada dapat diakui oleh siapa saja yang menggunakan akalnya, demikian juga dengan
doktrin yang diterima sebagai warisan budaya. Namun jika manusia diajak untuk
tunduk dan berserah diri penuh kepada perintah Allah, sebagian manusia
menolaknya. Pengakuan yang tak dibarengi dengan ketundukan pada hakikatnya
adalah kecacatan Tauhid.
Allah
SWT menurunkan wahyu melalui Jibril sejak Adam as. sampai Muhammad SAW,
dalam bentuk shuhuf, ataupun dalam bentuk kitab. Wahyu-wahyu sebelum
diturunkannya Al Qur’an dibawa oleh para rasul sebagai petunjuk bagi kaum dan
kurun tertentu, untuk menata sistem kehidupan di zamannya masing-masing, sedangkan
Al Qur’an diturunkan sebagai petunjuk seluruh manusia dan berlaku sepanjang
masa. Selain sebagai petunjuk, Al Qur’an juga sebagai kitab penjelas atas
petunjuk dan pembeda (haq dan batil), serta pembenar dan penyempurna
kitab-kitab sebelumnya,4 sehingga Al Qur’an mengandung ajaran yang
sempurna dan terjaga keaslian dan kelestariannya sampai hari kiamat.5
Kandungan
Al Qur’an yang amat penting terletak pada misi dan seruan kepada manusia untuk
beriman, beribadah serta beramar ma’ruf nahi mungkar. Al Qur’an juga dinyatakan
sebagai kitab yang memberi petunjuk, pembeda, pengingat, pembawa berita
gembira, pembawa syari’at yang lurus dan pedoman bagi manusia. Al Qur’an
diklaim bahwa dirinya adalah kitab yang membawa misi pembebasan bagi manusia
dari kegelapan menuju cahaya.6 Itulah sebabnya manusia
diperintah Allah agar menerima Al Qur’an tanpa keraguan.
Kandungan
Al Qur’an tidak hanya memuat ajaran tauhid dan peribadatan, tetapi Al Qur’an
juga memberikan persepsi tentang masalah-masalah kosmologi,
sejarah, fenomena sosial, membicarakan suatu entitas tertentu secara mondial,
misalnya tentang langit dan bumi dengan detail atau rinci. Kelengkapan Al
Qur’an ini diimbangi dengan seruan Allah pada manusia agar hati dan akalnya
senantiasa dimanfaatkan dalam segala hal dan digunakan untuk memikirkan
permasalahan intelektual. Al Qur’an menunjukan kelengkapan ajaran dan misi yang
diperuntukan bagi manusia, sehingga Allah berkenan menurunkan sejarah kenabian
dan kerasulan di dalamnya, berikut dengan konsekuensi penerimaan dan
penolakannya.
Semua
nabi menyampaikan ajaran tauhid tanpa pemaksaan,7 namun dengan
penyampaian, pengajaran dan peringatan, serta memberikan janji tentang kesucian
diri kepada manusia. Keyakinan akan bimbingan oleh para nabi disebut dengan
doktri kenabian. Kenabian ini amat penting karena dalam kenyataan hidupnya,
manusia ternyata tidak senantiasa mampu menjaga dan mengembangkan jati diri
untuk kembali kepada fitrahnya secara mandiri, bahkan tidak jarang manusia
tenggelam dalam noda dan dosa serta kekafiran.
Penyampai
risalah yang memiliki otoritas sebagai uswatun hasanah,8
harus menyampaikan risalahnya kepada manusia secara langsung agar dapat
dipraktekkan di kehidupan manusia. Perilaku kehidupan manusia yang diridhoi
Allah SWT diajarkan oleh Islam dalam konsep kesaksian syahadah rasulnya. Maka
kedudukan nabi, rasul dan Muhammad sebagai penutupnya tidak cuma penyampai
risalah dan menjadi uswatun hasanah, akan tetapi juga sebagai acuan dan sumber
syari’ah setelah wahyu.9
Pada
realitas sosial, selain mengajarkan risalah, setiap rasul terutama Muhammad SAW
juga memimpin dan mendidik umatnya, dan dalam keadaan tertentu juga menjadi
panglima perang. Kehadiran dan peran ini memiliki kesamaan misi, yakni
menyelamatkan dan membebaskan manusia dari kehancuran dan dari api neraka,
serta mengajaknya pada kehidupan yang sejahtera dunia akhirat. Kompleksitas
peran dan kedudukan nabi menunjukkan bahwa persoalan agama bukanlah sebatas
rohani, spiritual, etika dan keakhiratan belaka, tetapi meliputi semua kehidupan
manusia.
Salah
satu misi adalah untuk mengembangkan “kejatidirian” manusia dengan benar,
terletak pada pandangan dan penjelasan Al Qur’an tentang alam semesta. Menurut
Al Qur’an, keberadaan alam semesta juga karena diciptakan. Proses penciptaan
itu sendiri berjalan secara evolutif dalam enam masa.10 Alam
diciptakan Allah SWT dalam keadaan seimbang dan tanpa cacat.11 Alam
semesta secara pasif adalah muslim.12 Keberadaannya sebagai
bukti kekuasaan dan keberadaan Allah SWT. Karena itu manusia jangan terperosok
ke dalam penyembahan terhadap alam, dan melupakan Tuhan karena interaksinya
yang keliru terhadap alam.
Alam
semesta ini diciptakan Allah SWT untuk manusia dan menjadi pelajaran baginya.
Manusia berhak mengelola dan memanfaatkannya guna memenuhi kebutuhan dan untuk
mencapai tujuan hidupnya. Tetapi sebaiknya, manusia dilarang meng-eksploitasi
dan merusaknya sehingga segala akibatnya akan diderita oleh manusia.13
Agar manusia dapat memperoleh pelajaran, maka alam juga dilengkapi dengan ukuran
atau qadar14 dan hukum-hukum tertentu yang disebut sunnatullah.
Sunnatullah pada alam semesta bersifat tetap, dapat diamati dan dipelajari
oleh manusia.15
Oleh
karena itu jika manusia secara serius mau memperhatikan alam dengan mengi-kuti
petunjuk kitab suci dan nabinya serta mendayagunakan secara maksimal akal
budinya maka ia akan dapat memperkirakan perjalanan alam dan selanjutnya
menguasainya secara proporsional. Dari sinilah sejarah hidup manusia dan masa
depannya diuji Apakah dengan diturunkannya risalah universal itu manusia dengan
sadar mengikutinya yang berarti muslim atau menempuh jalan lain yang berarti
kafir atau munafiq.
Setiap
pilihan manusia membawa konsekuensi di dunia maupun di akherat.
Konsekuensi di akherat akan menjadi tanggungan bagi dirinya sendiri. Suatu masa
ketika setiap manusia harus mempertanggungjawabkan seluruh amal perbuatannya
disebut hari kiamat atau hari pembalasan. Pada hari itu
semua amal manusia akan dihisab atau dihitung dan ditimbang baik dan buruknya.
Akhirnya, sebagai konsekuensi amal perbuatannya, apabila kebajikannya lebih
banyak, akan menjadi ahli surga atau sebaliknya menjadi ahli neraka.
Sistem
keyakinan merupakan konsepsi yang menjiwai cara pandang tentang pengetahuan (ma’rifah),
cara pandang tentang manusia, cara pandang tentang kemasyarakatan, cara pandang
tentang alam semesta, dan cara pandang tentang akhir kehidupan manusia. Bagian
berikut dari bab ini nantinya akan menguraikan secara lebih lengkap mengenai
cara pandang HMI tentang keilmuan hingga cara pandang tentang keakhiratan
yang dijiwai oleh sebuah sistem yang diyakini bersama yaitu sistem keyakinan
Tauhid.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar